Padang (cvtogel) – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat saat ini sedang mempersiapkan status siaga darurat. Untuk kebakaran hutan dan lahan guna mengurangi ancaman dan efek dari asap di wilayah tersebut.
“Kami sedang melakukan persiapan untuk status siaga darurat, dan saat ini prosesnya sedang berjalan,” jelas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Rudy Rinaldy di Kota Padang pada hari Sabtu.
Sebelumnya, dua wilayah di Ranah Minang, yakni Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Solok, telah menetapkan status tanggap darurat terkait kebakaran hutan dan lahan. Ini muncul karena meningkatnya kejadian kebakaran yang terjadi di sana. Bahkan, di Kabupaten Solok, semua kecamatan telah terpengaruh oleh kebakaran tersebut.
Mengenai potensi wilayah lain untuk juga menetapkan status tanggap darurat, Rudy menyatakan bahwa sampai saat ini, tidak ada potensi lainnya, sebab kebakaran yang terjadi masih terbatas pada area kecil.
“Sampai sekarang belum ada, dan kami berharap tidak ada wilayah lain yang menetapkan status tanggap darurat selain kedua daerah tersebut,” tambahnya.
Ia melaporkan bahwa sejauh ini, sekitar 500 hektare hutan dan lahan telah terbakar, dengan daerah yang paling luas terdampak berada di Kabupaten Limapuluh Kota dan Solok. Pembakaran lahan pertanian adalah salah satu penyebab utamanya.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak membakar hutan atau membuka lahan pertanian dengan cara membakar, karena hal itu dapat mengakibatkan kerusakan yang sangat besar.
“Sampai saat ini, kami belum melakukan penyelidikan atau menemukan tersangka terkait pembukaan lahan, karena kami masih fokus pada pemadaman kebakaran,” katanya.
Dalam usaha memadamkan kebakaran, pihak yang berwenang harus melakukan modifikasi cuaca karena mengalami kesulitan dalam memadamkan api. Kesulitan ini disebabkan oleh kondisi topografi yang memiliki kemiringan yang cukup tajam dan curam. Selain itu, area kebakaran juga masuk ke dalam kawasan hutan yang hanya bisa diakses oleh pesawat, seperti yang dilakukan dalam operasi modifikasi cuaca.
“Kondisinya sangat terbatas, karena sulit bagi kendaraan pemadam kebakaran untuk mencapai lokasi tersebut,” jelasnya.
Secara umum, dari data yang diperoleh melalui aplikasi SIPONGI+ atau Sistem Pemantauan Karhutla dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen, terdapat 50 hotspot atau titik api di Sumbar antara 1 hingga 25 Juli 2025.