Program Bisa Ekspor fasilitasi 800 UMKM dengan transaksi Rp1,4 triliun

Balikpapan (cvtogel) – Budi Santoso, Menteri Perdagangan, menyatakan bahwa program UMKM. Bisa Ekspor telah memberikan dukungan. Kepada lebih dari 800 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan total transaksi ekspor tercatat mencapai sekitar Rp1,4 triliun hingga pertengahan tahun ini.

“Program UMKM Bisa Ekspor telah membantu lebih dari 800 pelaku UMKM dalam menampilkan produk mereka di pasar internasional dan menghasilkan transaksi ekspor sekitar Rp1,4 triliun hingga pertengahan tahun ini,” ungkap Budi Santoso saat memperkenalkan program tersebut di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada hari Jumat.

Ia menjelaskan perkembangan program yang diluncurkan oleh Kementerian Perdagangan sejak Januari 2025, saat meresmikan pusat ekspor di Balikpapan dan Batam sebagai bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan ekspor produk UMKM ke pasar global.

“Pembukaan pusat ekspor di dua tempat, Balikpapan dan Batam, merupakan langkah agar UMKM dapat melakukan ekspor,” kata Budi.

Pusat ekspor ini dirancang untuk menjadi tempat pendidikan dan kurasi produk UMKM yang siap dipasarkan di tingkat internasional, khususnya di sektor non-migas, di mana pelaku UMKM mendapatkan dukungan dalam hal kualitas produk, pengemasan, perizinan, dan strategi pasar yang dituju.

Kementerian Perdagangan saat ini memiliki 46 perwakilan dagang di 33 negara, yang terdiri dari Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), berfungsi aktif untuk memasarkan produk UMKM dari Indonesia.

“Jangan menunggu produk baru; kami akan melatih dan mendukung produk yang ada agar distandarkan untuk ekspor, dan membantu mencarikan pembayarannya melalui perwakilan dagang di luar negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, pusat ekspor di Balikpapan akan dikembangkan menjadi tempat pengembangan UMKM ekspor di Kalimantan Timur dan juga berfungsi sebagai hub distribusi untuk produk unggulan daerah ke pasar internasional.

Fasilitas ini akan didukung oleh penyuluh ekspor yang akan menjangkau pelaku UMKM hingga ke daerah terpencil, bahkan desa dan kelurahan, dengan pendekatan langsung untuk membantu mereka yang belum paham tentang proses ekspor.

Menurutnya, agar pelaku UMKM dapat memasuki pasar global, mereka harus memenuhi dua syarat penting, yaitu berani berinovasi dan siap beradaptasi, serta produk mereka harus unggul dalam kualitas, desain, dan memenuhi standar negara tujuan ekspor.

“Produk UMKM dari Indonesia memiliki ciri khas yang diminati di pasar luar, namun pelaku UMKM perlu mendapatkan bimbingan agar dapat memenuhi kebutuhan pembeli,” tambahnya.

Di Eropa, pemerintah pusat telah menyelesaikan perundingan di IEU-CEPA yang memberikan akses ekspor ke 27 negara Uni Eropa dengan tarif nol persen. Selain itu, perjanjian perdagangan juga telah dituntaskan dengan Kanada, Eurasia, dan beberapa negara ASEAN.

“Hanya Indonesia dan Vietnam yang memiliki perjanjian dengan Eropa, ini merupakan peluang yang tidak dimiliki oleh semua negara, dan UMKM harus siap memanfaatkan kesempatan ini,” tuturnya.

Kementerian Perdagangan juga menjalankan gerakan nasional bernama Gerakan Kami Pakai Lokal (Gaspol) untuk meningkatkan permintaan dalam negeri terhadap produk UMKM, sehingga pasar dapat tumbuh dan tidak diisi oleh produk asing.

“Namun UMKM perlu memiliki daya saing, kualitas, dan kemasan yang baik. Kami akan mendukung dan melatih mereka agar bisa bersaing,” tegasnya.

Pusat ekspor juga memiliki peran dalam standarisasi produk, dengan memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan yang kini menjadi fokus utama negara-negara tujuan ekspor. Standar yang tinggi sangat penting untuk memasuki pasar global.

“Jika produk tidak distandarisasi dan tidak ramah lingkungan, produk tersebut bisa ditolak, jadi semua harus bersiap dari sekarang,” jelasnya.
Budi Santoso berharap bahwa pusat ekspor di Balikpapan dan Batam akan menjadi penggerak utama untuk meningkatkan ekspor yang berbasis pada UMKM, serta diharapkan menjadi model nasional yang dapat dicontoh oleh provinsi lainnya.